Kehilangan adalah suatu rasa,dimana kita terpisahkan dari orang yang kita cintai. Arti kehilangan bagi sebagian orang itu berbeda. Ada yang menganggap kehilangan merupakan luka. Saat orang yang berarti, pergi meninggalkan kita. Bahkan, pergi dan tak akan pernah kembali. Tapi,untuk sebagian remaja yang sedang jatuh cinta. Kehilangan adalah suatu kabar tak mengenakkan, saat kekasih kita pergi meninggalkan kita demi pacarnya yang baru. Selain itu, kita juga sering menganggap kehilangan kekasih berarti kehilangan semuanya. Kehilangan orang yang bisa diajak curhat, diajak ketawa, ngomong bareng, dll.
Gue juga pernah merasa kehilangan. Kehilangan orang yang gue kagumi. Yang ternyata, lebih suka sama temen deket gue sendiri. Gue juga pernah kehilangan rasa, saat gue kembali mengangumi temen sekolah gue lagi. Bahkan, sekarang gue udah mati rasa. Saat melihat status media sosialnya. Yang selalu membuat gue kecewa. Kehilangan bisa membuat kita sangat-sangat benci dan kecewa sama orang itu. Tapi, bisa juga sedih dan rapuh saat benar-benar kehilangan anggota keluarga kita, temen baik kita, saudara kita. Semua orang, yang berarti di hidup kita. Gue juga belum siap kehilangan ibu gue. Atau temen-temen gue yang sangat berarti saat ini buat gue. Gue ngga tau, gimana rasanya kehilangan mereka. Akan serapuh apa, gue memandang dunia. Mungkin, kaki ini, tak sanggup berjalan. Hanya bisa tertatih. Dan ingin segera menyusul pulang.
Gue kecil, yang belum siap kehilangan. Dan belum tau arti kehilangan seperti sekarang, justru dihadang untuk kehilangan orang tersayang. Gue kecil yang belum tau akan ditinggalkan. Minta dibelikan sesuatu saat ayah pergi keluar. Ternyata, ayah pulang tak membawa titipan. Hanya ucapan duka dari orang sekitar. Hari demi hari, gue lalui di kota ayah. Tanpa ayah. Hanya bisa memandang speed boat berlalu lalang. Mengira satu persatu orang yang datang adalah ayah. Ternyata bukan. Gue kecil yang posesif. Saat mengenali baju ayah dipakai orang. Gue cuman bisa nangis, suruh orang itu melepasnya. Gue kecil yang lucu. Hanya bilang "ayah mau pulang". Ibu hanya bisa menyeka air matanya. Melihat gue kecil yang belum tau ceritanya.
Ombak yang terus mengalun. Menghantam kayu rumah panggungku. Kembali menanti ayah. Sampai, ibu tak tega terus melihat pemandangan yang sama. Ibu membawaku pulang ke kota yang baru. Seperti biasa. Gue kecil yang selalu menangis, kalo perjalanan jauh. Apalagi, butuh naik kapal, berlanjut menggunakan bis malam untuk sampe tujuan. Gue kecil yang menyedihkan.
Setiap orang, pasti pernah merasa kehilangan. Seperti gue ini. Gue masih bisa bangkit. Dan akan selalu bangkit. Dunia masih butuh gue, untuk menapaki setiap sisinya. Kehilangan bukan alasan untuk menghilang. Tapi, jadikan suatu alasan untuk tetep mengenang, orang yang di sayang. Jangan sedih lagi. Kita berada dalam satu frekuensi. Salam dari nadi..


Tidak ada komentar: