#CERPEN 3
![]() |
| source: pinterest. |
Malam yang begitu pekat. Aku menatap jendela dengan mantap. Sepertinya, bintang juga tak mau menemani malamku kali ini. Hanya gulungan awan yang menyuruh semua orang untuk tak keluar. Dari atas kasur yang tak begitu menenangkan. Kali ini, aku tak lagi melihat drama korea romantis. Atau, membaca buku tentang kehidupan yang miris. Aku sedang berada dalam alunan perasaan kecewa. Kecewa karena ditinggal olehnya. Dia, orang yang sangat aku cinta dan aku percaya. Kini tega menghianati tumpukan rasa yang membuatku sangat lara.
Aku
terkurung sendirian di kamar. Kamar yang tak lagi nampak seperti kamar. Lebih
mengarah disebut, kapal pecah. Lagi-lagi aku meremas selimut yang ingin sekali
aku robek-robek. Bantal dan guling disamping, sudah berpindah posisi. Hanya ada
satu bantal yang terus-terusan menampung literan air mataku. Kini mataku sudah
begitu sakit jika dipejamkan. Bahkan tangis, kini sudah merasa tak mau lagi
berderai. Kantuk tiba-tiba mulai datang. Dan tak mau cepat pulang.
Mata yang
tadinya susah sekali ku pejamkan, kini sudah sayup dengan sendirinya. Seketika
aku terelelap dalam mimpi.
Aku merasa masih berada di kamar. Melihat sekeliling, nampak seperti kondisi kamarku yang terlihat bagaikan, kapal pecah. Tapi, ada yang membuatku berbeda. Aku melihat sinar yang masuk dari sisi bawah dan samping pintu kamar. Aku kembali penasaran. Dan membuka pintu kamar. Tapi, aku tak melihat sinar yang terang itu. Aku hanya menjumpai lorong yang sangat gelap. Dan tak tahu mana ujungnya. Seperti terjebak dalam lorong gelap itu. Aku melanjutkan berjalan menyusuri beberapa lorong ke depan.
Hingga tak tahu sudah menyusuri
berapa lorong yang sangat gelap ini. Dengan sesekali merambat pada tembok, serta
sesekali menjerit menyangka ada hewan seperti cicak. Di ujung sebelum kelokan
lorong itu, aku melihat lampu yang lumayan terang. Tapi, setelah aku mendekati
lorong itu, lampunya mulai berkedip-kedip seperti mengisyaratkan akan mati. Aku
langsung membuat ide selanjutnya, untuk melewati beberapa lorong ke depan,
dengan bantuan lampu yang berkedip-kedip di lorong ini. Aku langsung berlari
menyusuri beberapa lorong, untuk menemukan ujungnya.
Nafasku
mulai terbata-bata. Tak kuat lagi berlari. Sambil memegangi perutku, aku
berhenti dan kembali menarik nafas panjang. sembari melirik ke belakang.
Dan ternyata, lampu dilorong itu, akan mati secara perlahan. Aku pun kembali
mengumpat.
“sial..sial..”
sambil menghentakkan kaki ke tanah.
Seketika itu
juga, aku kembali melihat kedepan, dan melihat sinar yang terang yang aku lihat
sama persis seperti aku lihat dari balik pintu kamar.
Aku
kembali mengikuti sinar terang itu. Dan
akhirnya, aku menemukan asal sinar terang itu. Aku melihat tempat yang belum
pernah aku lihat sebelumnya. Tempat yang indah, dengan pepohonan yang rindang
dan kupu-kupu yang bertebaran. Serta, harum bunga yang sedang mekar, membuatku
terlalu nyaman. Aku juga melihat sepasang orang yang
saling bergandengan, banyak yang sedang bercengrama dengan para kawan, dan
anak-anak yang berlari riang kesana-kemari.
Aku terus berjalan, sampai bertemu dengan kursi yang tak ada orang. Sembari tersenyum melihat sekitar. Tak lama, kursiku sedikit bergoyang. Memberikan isyarat, adanya seseorang. Benar saja, ada seseorang yang duduk di sebelah kanan. Laki-laki yang nampak sedih dan wajahnya terlihat sangat muram. Lama kita terdiam. Tanpa saling bertatapan.
Aku awali untuk melihatnya. Patut aku akui,
mata coklatnya sangat indah. Serta jambul di rambut hitam legamnya, yang
membuatku begitu terpikat. Aku terus saja melirik memandangnya. Tak lama, dia mengubah
lamunan menjadi tangis yang sangat pecah. Hingga membuatku terperanjat melihatnya.
Dia
menangis, sambil terus mengatakan ‘kenapa’. Aku menghentikan sejenak
tangisannya. Karena, jujur saja aku baru pertama kali melihat laki-laki
menangis se-histeris ini.
“maaf, kalau
boleh tahu, kamu siapa dan kenapa ya?” tanyaku begitu tegang dengan gigi yang
tak sanggup terbuka lebar.
Dia hanya berhenti sejenak,dan memandangku dengan lekat. Lalu, melanjutkan menangisnya. Aku tak tau apa yang sedang dia rasa.
Tiba-tiba, aku jadi teringat saat kecewa diputuskan oleh cinta pertama. Yang sudah lama, aku sangat mencintainya.
Berharap penuh bisa menjalin masa depan bersamanya. Tapi, apalah daya. Dia lebih memilih teman sepermainanku sendiri.
Terlalu jahat memang. Dan pantas disebut, penusuk dari belakang.
Tak lama
juga, aku ikut meneteskan air mata. Dan mengusapnya sangat cepat, saat suara
itu menyadarkanku.
“kau juga..
kenapa menangis?”
Kita sama-sama terdiam, sambil menghapus air mata masing-masing. Dia memulai lebih dulu
pembicaraan. Yang membuatku, tak lagi meradang.
“aku baru
saja dikhianati oleh seseorang yang sangat aku cintai, dia adalah perempuan
yang membuatku kuat, sampai hari kemarin. Sedangkan hari ini, dia tak bisa membuatku kuat kembali. Dulu, dia selalu membuatku terus semangat. Untuk bangkit dari fase Broken Home ku. Tapi, setelah aku terus-menerus menyimpan perasaan kepadanya,
dia terus juga mengaburkan kepercayaanku. Aku sudah menganggap dia seperti
teman hidupku. Yang pembawaannya sangat lembut saat bertemu dengan ku. Perkataannya tak pernah
membuatku marah. Tapi, aku selama ini salah. Diam-diam, dia menusukku dari
belakang. Sangat membuatku perih, saat melihatnya bersama yang lain. Dan saat
aku mendekatinya, dia tak merasa malu. Justru, dia langsung bilang tak suka aku
lagi dan langsung memutuskanku. Di depan pacar barunya itu.”
Aku sangat
terpaku mendengar ceritanya itu. Ternyata, apa yang aku alami saat ini, sama
seperti laki-laki yang berada di sampingku saat ini.
“sama
seperti yang aku alami saat ini. Kita satu nasib ya.. sama-sama sedang kecewa.”
Balasku.
Kita sama-sama tertawa. Hingga tak menyadari, ingus kita saling menyapa bersama-sama. Kita juga sempat bergurau. Dan sesekali terdiam. Aku merasa sangat terhibur saat itu.
Seperti hilang saja semua beban kekecewaan. Kita terus bergurau. Hingga
akhirnya, dia mengatakan sesuatu kembali. Dan menjadi akhir sebuah pembicaraan.
“terima
kasih ya. Alanza Sabirna.”
Aku terkejut
namaku disebut oleh orang yang baru aku kenal, dan belum pernah aku lihat
sebelumnya.
Tiba-tiba, posisiku tak berada seperti terpejam lagi. aku langsung berganti posisi duduk sambil memegangi kepala. Tanpa disadari, aku teringat akan mimpi itu. Dan memandang sekitar kamar. Ternyata, sudah terlihat fajar yang mengundang.
"ya tuhan, aku ingin tidur dan berkenalan dengan laki-laki di mimpi tadi lagi. kumohon." pintaku, sambil mengebas-ngebas selimut dan guling yang hampir jatuh ke lantai.
Ku terus memohon dan berusaha memejamkan mata lagi, ingin berada dalam mimpi itu saja, tak mau kembali dalam realita.
SELESAI.
Eh... dari nadia aja deh..


Tidak ada komentar: