Menginjak Kepala Dua

 

"mari kembali untuk menerima, mensyukuri, dan mengikhlaskan 

semua yang sudah terjadi"


Tepat di tanggal ini, gue menjadi seseorang yang berkepala dua. Bukan dengan kepala yang ada dua loh ya.. wkwk. Tapi menjadi seseorang yang katanya sudah dewasa karena menginjak 20 tahun. Sebenernya sih nambah tua ya. Hahaha. Di umur 20 tahun ini, dari pagi sampe sekarang gue nulis ini, banyak banget ucapan doa dan harapan untuk gue menjadi orang yang lebih baik lagi kedepannya. Sanah helwah untuk diri gue sendiri. Segala bentuk terima kasih yang dapat mengantarkan gue di titik sekarang ini. walaupun pengin banget ngga nginget ke belakang, tapi untuk mengawali dua puluh tahun ini, gue mencoba untuk mengikhlaskan masa lalu. Karna bagi gue, setiap masa lalu pasti punya cerita di dalamnya, banyak sekali teman-teman yang turut serta menemani setiap perjalannya. Maka dari itu, kembali mengabari beberapa teman yang dulu selalu menemani gue, adalah cara terbaik untuk merangkul silahturahmi. Karna mereka, gue bisa belajar tentang luka, tentang persahabatan, tentang cinta kasih, dan tentang kekeluargaan. 

Walaupun terpisah lama, karna setelah lulus SMA gue mencoba menghapus semua kontak mereka, grup bersama mereka, foto bersama mereka dari galeri, walaupun ngga bener-bener gue hapus, karna masih gue pindahin ke gogle drive. Apapun bentuk hal kenangan tentang mereka, gue mencoba untuk rehat sebentar. Gue berusaha untuk menenangkan diri, mengubah cara berpikir gue tentang mereka, menghargai kondisi mental gue yang ingin sedikit pulih. Yang gue lakuin saat itu, bukan pergi ke macem-macem tempat, karna kalian tahu sendiri, gue adalah seorang wanita kere yang ingin menghemat pengeluaran. Healing gue saat itu cuman bisa nangis, ada teman? tentu ngga ada, sendirian. Gue cuma kepikiran, gue pengin sembuh dari semua pikiran yang menjadi sumber benang ruwet di kepala. Hingga akhirnya, gue mencoba untuk kuliah, mencoba mengenal beberapa orang baru, kondisi lingkungan baru, dengan tujuan, supaya gue bisa ngelupain mereka. Tapi, setiap luka dan bayangan lara terlalu sering hanyut dan lewat walau sekelebat. Setiap hari, gue mencoba memaafkan mereka, berusaha ngelupain itu semua, dan kembali membayangkan tentang kebaikan mereka. Hingga suatu acara yang membuat gue berusaha untuk maksain diri terlihat baik-baik aja, walaupun dada ini sangat sakit untuk dijelaskan kenapanya. Selama acara berlangsung, gue masih ngerasa ini bukan gue yang biasanya. Akhirnya dari situ, gue kembali untuk menutup diri sementara waktu terhadap mereka. Dan sedikit silahturahmi untuk main ke rumah beberapa teman, dengan tujuan mengucapkan terima kasih serta, sebagai bentuk salam perpisahan, yang gue yakini saat itu, akan ada proses lama yang ngga tahu sampai kapan, untuk gue menenangkan diri ke sekian kalinya. 

Hingga kemarin, dalam rangka menyambut usia gue yang ke 20 tahun, gue berusaha untuk meyakinkan diri, memutuskan untuk mengabari mereka kembali. Berusaha mengembalikan sitausi yang telah lama gue tinggalkan. Karena, setiap chat mereka ngga pernah gue balas, vidio call rame-rame ngga pernah gue angkat, acara demi acara yang mereka susun ngga gue gubris, apapun itu. Dari situ, gue mencoba untuk menerima dan mengikhlaskan semuanya. Membuat awal momen usia gue yang udah 20 tahun ini, agar mampu mengikhlaskan masa lalu, walaupun setiap balasan yang gue berikan ke teman-teman gue, di respon dengan berbagai macam hal. "udah ngga sibuk sekarang nad?", "aku kira nomernya udah ngga aktif", "kemana aja sih nad?", "akhirnya kamu chat juga". Segala bentuk tanggapan tersebut, gue akan terima, bahkan jikalau teman-teman gue nantinya akan mengumpat ke gue. Dan mengabari mereka di H-1 ulang tahun gue, tujuannya bukan untuk mereka inget kalo besoknya gue ultah, biar mereka ngucapin ke gue, ngga sama sekali gue punya pikiran itu. Gue hanya berpikir, bahwa detik-detik sebelum gue menginjak umur 20 tahun, gue pengin mereka tahu kalo gue masih menganggap mereka temen gue, gue masih menjadi nadia SMA yang selalu punya cara untuk membuat teman-temannya senang dan tertawa. Gue juga pengin mengembalikan silahturahmi yang sudah lama putus. Dari gue ke mereka.

Dan untuk segala ucapan dan doa gue merasa cukup. Dan merasa mereka masih mengganggap gue, gue seneng banget, mengawali 20 tahun ini, gue merasa punya banyak teman. hehehe.. untuk kedepannya, gue akan menjalin silahturahmi dengan mereka, berusaha untuk ngga tremor kalo ketemu mereka, berusaha menjadi nadia dengan versi yang lebih baik lagi. aamiin. untuk semuanya, terima kasih sudah mau menemani sepanjang perjalanan, semoga acara ketemu kita bisa terlaksana lagi. Maaf kalo pelan-pelan, gue butuh adaptasi. Bimbing gue untuk bisa jadi teman terbaiknya kalian. Dan untuk mental ini, diharapkan terus kuat, terus bisa berjuang untuk meluruskan benang yang udah ngga karuan. Tetaplah ikhlas menjalani semua halnya. Untuk kalian yang baca ini, juga terima kasih. Semoga kita mampu memaafkan semua orang. peluk online serta peluk dari jauh untuk kalian semua.đź’š
Menginjak Kepala Dua Menginjak Kepala Dua Reviewed by Nadia Pratiwi on Juli 14, 2022 Rating: 5

Tidak ada komentar:

top navigation

Diberdayakan oleh Blogger.