Banda Neira dan Kenangan

 

#CERPEN 2

source: pinterest




“Nala.. janji ya. Terus berkabar, walaupun sejauh mata memandang.”

Janji seorang anak laki-laki kecil sembari melambaikan tangan dan tersenyum simpul meninggalkanku. Dia adalah Bias Athareza. Tetangga samping rumah, yang bener-bener seperti saudara. Kini harus pindah ke Banda Neira. Karena tugas dinas sang ayah. Aku dan Bias, sangat dekat. Kita juga satu sekolah. Karena sekolah kita dekat dengan rumah, kita seringkali berangkat bersama. Ibu dan ayahku, sudah terbiasa mengizinkanku keluar jika itu dengan Bias. Walaupun bias masih kecil, kata ayah dia sudah bisa melindungiku. 

Teringat saat sepulang sekolah, dan cuaca sedang hujan. Kami tak membawa jas hujan, bahkan seikat payung. Dan keadaan saat itu, hujan tak mau mereda. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang. Bias membawa jaket dan menyuruhku menggunakannya. Sedangkan dia? Hanya melindungi kepalanya dengan tas hitam putihnya.

Sayang, keadaan memisahkan aku dan bias. Bias harus pindah sekolah, saat duduk di bangku kelas 5 SD. Tapi tak masalah buatku, karena kita sering bertukar kabar melalui surat yang diantar pak pos kesayangan. 1 tahun 2 bulan berlalu, kita banyak bertukar kabar, saling menceritakan keluh-kesah, saling bercerita tentang masuk SMP favorit. Bahkan, bias selalu berlebihan menanyakan keadaan Muki, kucing kesayanganku. Aku jadi cemburu. Saat Bias lebih perhatian terhadap muki daripada aku. 

Surat terakhir yang dikatakan olehnya,”Nala, Banda Neira sekarang lebih indah. Banyak sekali wisatawan yang berkunjung ke sana. Pantai dan hamparan pasir putihnya, sungguh sangat menakjubkan nal. Kuharap, suatu saat kita bisa bertemu disana ya.”

Seperti tak ada perasaan apapun tentang surat terakhir ini. Ini juga merupakan akhir sesi tulis-menulis surat antara aku dan bias. Bias pun tak mengabari apapun lagi sekarang, aku yang terus-menerus menunggu pak pos, membawa surat dan menaruhnya ditempat biasa. Terkadang, aku mengintip dari jendela rumah. Dan terkadang juga, aku melihat pak pos menaruh surat ditempatnya. Aku seketika langsung berlari keluar, sampai ibu kembali berteriak kencang. “Nal.. pake sandalnya.”

“sial..” umpatan yang aku berikan, saat mengambil surat itu. Ternyata, surat itu tentang tagihan listrik bulanan yang ayah belum bayar.

Hari demi hari terus berlanjut. Kerinduan pun terus menyelimuti. Pertanyaan yang membuat overthinking selalu bikin pusing. Pertanyaan yang muncul tentang, kenapa bias tak mengabari lagi dan pikiran-pikiran negatif lainnya.

Kau tau, hariku harus tetap berlanjut, masih terus mengenang mu. Membayangkan suatu saat bisa bertemu di Banda Neira. Entah dengan cara apa aku kesana.

Jarak memang begitu membingungkan, antara Jakarta dan Banda Neira serta membuat banyak kerinduan pada orang yang tersayang. Aku tetap menunggumu, semoga kau cepat tersentuh. Andai, aku bisa menerbangkan pesawat kertas sampai ke Banda Neira. Aku akan menuliskan beberapa kode-kode perasaan untukmu, pastinya. Kau tau, setiap malam, aku ingin menjadi bintang yang ditugaskan langsung menghiasi langit Banda Neira. Supaya kamu bisa melihat dan menemani malammu yang mungkin sangat kelabu. Aku rindu yas..

source: google picture


Ada kabar dari kantorku yang membuatku senang yas. Kau tau apa? Aku ditugaskan memantau perkembangan kantor cabang di Maluku Tengah, tepatnya di Banda Neira. Awalnya, aku sangat senang bisa sekalian menemuimu yas. Tapi, kantor tak memberikanku jatah libur. Bahkan, jadwal dari keberangkatan sampai pulang, sudah disusun sangat padat. Semoga lain kali ya, aku bisa ke Banda Neira lagi dan mengujungimu.

***

Ada juga kabar baik lain. Setelah 2 tahun masa kerjaku dikantor ini yas. Aku resmi diangkat menjadi karyawan tetap. Dan aku, ditempatkan di Banda Neira. Tempat kantor cabang yang aku kunjungi 1 tahun silam. Dan sebentar lagi, aku akan lebih sering mengunjungimu yas. Semoga kita segera bertemu.

Weekend yang sangat menenangkan. Aku ingin rehat dari berbagai laporan kantor yang memabokkan. Aku ingin ke pantai. Menikmati senja, di Banda Neira ini. Serta melihat sekitar, yang melalui surat terakhirmu sangat indah suasananya. Semoga kamu masih menunggu ya, yas.

Angin pantai begitu mengundang. Mengundang hati yang telah lama berjuang dengan rasa sendirian. Aku masih menantimu yas. Masih. Seperti hamparan pasir putih yang terlihat menenangkan. Aku ingin keberadaanku kali ini menenangkanmu juga.

Aku terus berjalan. Tak tau mau kemana. Mondar-mandir sendirian. Tak terasa, langit mulai temaram. Senja mulai menghilang. Itu artinya, sebentar lagi aku akan melihat bintang. Tidak seperti, suasana di Jakarta. Kali ini, melihat bintang di kota yang sama denganmu yas.

Dingin mulai mengundang bulu kudu ku untuk merinding. Aku menarik napas panjang, sambil mengingat kenangan yang menurutku, kisah rindu saat bersamamu. 

Teringat saat kamu membelaku disaat para teman laki-laki lain yang mengatai ku jelek, sampai menjailiku. Bias terus saja melawan, dan tak mau membiarkanku tersakiti. Kalimat yang aku ingat saat bersama bias adalah,”Nal, kamu harus bisa melawan mereka ya. Aku takut nal, takut tak bisa ikut membalamu lagi. Tapi, aku janji kok ngga pengin liat kamu menangis lagi. ” Kalimat anak laki-laki berumur 9 tahun yang masih duduk dibangku kelas 4 SD.

Tak terasa, airmata mulai menetes mengenang kejadian dulu. Deru ombak dan liukan angin menghibur dan sangat menenangkan. Terdengar langkah kaki seseorang yang mendekati diriku. Aku mengabaikan perasaanku ini, dan kembali menatap langit yang indah. Serta, melanjutkan menghapus air mata yang terus saja membasahi pipi kanan kiri. Ada sebuah sapu tangan merah yang nampak dekat di wajah ini.

“Ngga baik nangis terlalu lama. Miracle Nala.”

Aku terkejut dan berbalik badan, menatap ke sumber suara itu.

“Bias..”


SELESAI.


Salam hangat,

bukan dari Banda Neira, 

tapi, Dari Nadia.

Banda Neira dan Kenangan Banda Neira dan Kenangan Reviewed by Nadia Pratiwi on Desember 19, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar:

top navigation

Diberdayakan oleh Blogger.