Ibu dan Nasi Padang

#CERPEN 1

source: pinterest.


Mentari belum juga terbit. Semua mata masih tertutup rapat. Hanya lantunan ayat suci yang terdengar di berbagai masjid. Begitupun ibuku. Sedang asik bercengkrama dengan alat-alat di dapurnya. Untuk mempersiapkan berbagai masakan yang dijualnya besok. Aku masih tertidur pulas, sampe lantunan adzan berkumandang, dan ibu membangunkanku untuk solat subuh serta melanjutkan membatunya. Sedangkan adikku, sudah menemani ibu dengan suara dentuman sendok yang dimainkannya. Maklum, adikku baru berusia 3 tahun.


Pancaran sinar mentari menyinari semua masakan ibu. Serta disambut dengan kerumunan ibu-ibu, yang berbondong-bondong membeli sarapan pagi untuk keluarganya. Seperti biasa, pagi yang sibuk  untuk ibu melayani semua pembelinya. Aku kembali masuk ke kamar, berganti pakaian lalu berpamitan ke sekolah. Tinggal ibu dan adik dirumah. Ibu membolak-balikan gorengan di dalam wajan. Bahkan, tak sadar banyaknya tetes keringat yang membuat minyak diwajan bergemuruh ria.


Ayah sedang berada diluar kota. Untungnya, pekerjaan ayah tak menuntutnya bertemu keluarga begitu lama. Ayah pulang seminggu sekali. Ayah juga sering mengeluhkan capenya, karena sering bolak-balik ke luar kota. Tapi, mau bagaimana lagi, ini adalah pekerjaan ayah. Dan sebagai tabungan untuk sekolahku dan adik nantinya. Sedangkan ibu, sudah beberapa bulan ini memutuskan membantu ayah, dengan berjualan sarapan di pagi hari dan sembari menemani tumbuh kembang aku dan adik.


Matahari sudah diatas kepala. Ibu mengemasi dagangannya ke dalam rumah, mengelap meja yang terdapat bekas makanan disana, serta bersiap untuk tidur. Ibu meluangkan memasak makanan diwaktu petang saat jam 3 malam. Dan mengganti tidurnya di waktu siang. Sambil menungguku pulang, ibu mengganjal pintu rumah. Karna kantuk mulai menyelimuti. Serta, sembari menidurkan adik yang ikutan bagun dengannya pagi tadi.


Semua tugas disekolah sudah berakhir. Karena besok akhir pekan, aku dan sahabatku merencanakan suatu pertemuan. Bersepeda di malam Minggu. Semua teman menyetujuinya dan bergegas pulang untuk izin dengan orang tuanya. Sebelum pulang, kami membeli jajanan untuk cemilan sambil mengerjakan tugas di akhir pekan. Karena kata ibu, aku boleh main jika semua tugasku selesai.


Fajar mulai tenggelam. Hanya senja yang menemani lantunan adzan. Beberapa saat kemudian, teman-teman mulai menghampiriku. Sebelum mengeluarkan sepeda, aku berpamitan dengan ibu, yang sedang memotong sayur-sayuran untuk masakannya besok. Sedangkan adik, masih tertidur pulas.


Aku bergegas menggoes sepeda. Mengalahkan para teman, adalah misi utamaku. Aku berada diposisi depan. Semua teman berusaha menyusulku. Semuanya berteriak.


"Salsa tungguuuuu" panggil beberapa temanku dari belakang.


Hiruk-piruk kota di malam Minggu terasa pekat. Polusi udara berhamburan sangat cepat. Sampai mata ini, sering tersipitkan oleh angin yang datang. Dinginnya angin tak menghalangi bersepeda kami. Mulut yang terus tertawa, sampai tak terasa lagi berapa banyak hembusan angin yang membuat gigi ini kering.


Saat semuanya lelah, kita berhenti dan beli minuman di depan warung Nasi Padang. Mata kami mengarah ke warung Padang yang banyak didatangi orang. Aku terus memandang, begitu pun perut yang terus bergejolak kencang.


Sampai hati mengatakan,"kapan bisa beli dan makan nasi Padang?"


Suara seorang temenku Ayu, memecah lamunan.


"nasi Padang enak tahu, aku makan nasi Padang, kalo ayah sudah gajian. Biasanya 3 kali dalam sebulan. Nasi Padang juga mahal , cuman orang beruang aja yang bisa makan. Seperti aku ini"


Karna saat itu, nasi Padang masih mahal dikalangan orang sepertiku. Untuk meminta dibelikan saat ayah pulang, rasanya tak tega. Ibu juga, belum tentu langsung mengizinkan beli nasi Padang. Untuk kebutuhan rumah saja, masih harus mikir kesana-kemari.


Salah satu teman memecah lamunan, dengan membawakan pesanan minuman dinginku. Setelah itu, kami melanjutkan sepeda-sepedaan, dan kembali pulang. Ayu ikut mampir ke rumahku sebentar. Setelah sampai di rumah, kami ditanya main kemana aja sama ibu. Ayu yang bercerita kalo kami main keliling pusat kota. Dan mampir minum es di depan warung Padang. Dan ayu bercerita klo dia sering makan nasi Padang. Katanya enak dan jarang orang bisa makan disana. Aku hanya terdiam dan menyimak perkataan ayu.


Suatu siang dihari Senin, sepulangku sekolah, ibu dan adik sudah bersiap dan menungguku di depan pintu dengan pakaian rapi. Tak berkata lama, ibu menyuruhku berganti pakaian dan ikut dengannya. Setelah aku bersiap, ibu sudah mengeluarkan sepeda dan menaikkan adik, serta disusul aku di belakang. Ibu mampir ke suatu bank, untuk mengambil sisa tabungannya.


Sebelum ibu berlanjut menggoes sepedanya, ibu bercerita tentang perbincangannya dengan ayah kemaren malam. Ibu mengatakan, kita akan makan di warung masakan padang kali ini, walaupun tanpa ayah. kata ayah, "uang bisa dicari lagi, yang penting kalian bisa merasakan makan nasi padang kali ini. Jangan menghiraukan ayah disini ya. Nanti, saat ayah sudah pulang. Kita makan nasi padang lagi."


SELESAI.💛💛💛



Salam berdetak,



Dari nadi.


Ibu dan Nasi Padang Ibu dan Nasi Padang Reviewed by Nadia Pratiwi on November 11, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar:

top navigation

Diberdayakan oleh Blogger.